Senin, 21 Februari 2011

Nani Gadis Kampung

Kala itu aku numpang kost dirumah temanku yang sudah berkeluarga, sedang seorang gadis adik temanku kebetulan numpang juga dirumah itu, sebagai pengasuh anak-anak temanku itu, berhubung suami istri bekerja.

Pada awalnya aku memandang gadis itu Nani namanya, biasa-biasa saja, maklum aku walaupun sudah cukup dibilang dewasa (27) tetapi sekalipun belum pernah mengenal cewek secara khusus apalagi namanya pacaran, maklum ortuku menekankan menuntut ilmu lebih utama untuk masa depan. Apalagi setelah aku selesai kuliah dan langsung bekerja, aku merasa berhasil menikmati hasilku selama ini. Itu sekedar backround kenapa gadis itu aku pandang biasa saja, karena dia hanya lulus SD sehingga aku kurang peduli bila aku menyadari tingkat pendidikanku sendiri. Namun dari hari kehari Nani si gadis itu selalu melayaniku menyediakan makan, menjaga kebersihan kamarku, dan bahkan mencuci bajuku yang terkadang tanpa aku minta walaupun aku sebenarnya biasa mencuci sendiri, namun adakalanya aku cukup sibuk kerja, sehingga waktuku terkadang di-buru2.

Rupanya gadis itu sedikit menaruh hati, tapi aku tidak tanggap sekali. Terlihat dari cara memandangku, sehingga aku terkadang pura-pura perhatian ke hal yang lain. Sampai pada suatu saat, dimana temanku beserta anak istrinya pulang kampung untuk suatu keperluan selam seminggu, sedangkan adik perempuannya karena harus menyediakan makan setiap kali untukku tidak diikutkan pulang, sehingga tingal aku dan gadis itu dirumah itu. Rupanya kesendirian kami berdua meniombulkan suasana lain dirumah, dan hingga pada suatu pagi ketika itu gadis itu sedang menyapu kamarku yang kebetulan aku sedang bersiap berangkat kerja, masuklah gadis itu untuk menyapu lantai. Sebagai mana posisi orang menyapu, maka saat gadis itu membongkok, aduhhh rupanya perhatianku yang sedang bercermin tersapu juga oleh pemandangan yang menakjubkanku.

Dua buah melon yang subur segar terhidang didepanku oleh gadis itu, dengan sedikit basa basi gadis itu menyapaku entah sadar atau tidak dia telah menarik perhatianku karena payudaranya yang tidak terbungkus BH, kecuali dibalut baju yang berpotongan dada rendah. Dengan tidak buang kesempatan aku nikmati keindahan payudara itu dengan leluasa melalui cermin selama menyapu dikamarku. Menjelang dia selesai menyapu kamarku, tiba-tiba dia dekap perutnya sambil merintih kesakitan dan muka yang menampakkan rasa sakit yang melilit. Dengan gerak reflekku, aku pegang lengannya sambil aku tanya apa yang dia rasakan. Sambil tetap merintih dia jawab bahwa rasa mules perut tiba-tiba, maka aku bimbing dia kekamarnya dengan tetap merintih memegangi perutnya sampai ditempat tidurnya. Kusuruh dia rebahan dan memintaku untuk diberikan obat gosok untuk perutnya. Segera aku ambilkan dan sambil berjaga dia gosok perutnya dari balik blosenya.

Tetapi tiba-2 saat menggosok lagi-2 dia mengerang dan mengaduh, sehingga membuatku sedikit panik dan membuatku segera ikut memegangi perutnya dan sambil mengurut juga. Dan nampak sedikit agak berkurang rintihanya, sambil aku masih urut perutnya.

Kepanikanku mulai hilang dan perhatianku mulai sadar lagi akan keindahan payudara gadis itu bersamaan dengan bangkitnya perasaan gadis itu selama aku urut tadi mulai menelusuk ke tubuhnya merasakan kenikmatannya juga dan dengan tiba-2 tanganku dipegangnya dan dibimbingnya tanganku ke taman berhiaskan buah melonnya yang subur segar dan aku turuti saja kenikmatan bersama ini untuk mengusap buah melon yang tidak terbungkus itu, dan tanganku terus menelusup diantara buah-2 itu sambil memetik-metik putingnya. Gadis itu mulai merintih nikmat, dan erangan halus dan memberi isyarat tanganku untuk terus dan terus memilin puting buahnya yang semakin menegang. Baru aku sadari bahwa untuk kali pertama aku merasakan puting gadis yang menegang bila sedang terangsang dengan erangannya yang membuat penisku yang dari tadi ikut mengeras tambah menekan didalam celanaku yang sebenarnya sudah siap untuk berangkat kerja, namun untuk sementara tertunda.

" eehh ...mas .. geliii..tapi enak, aahhh ..eehmm aduuuhh enak mass.."

Posisi dia saat itu sambil duduk membelakangiku, dan tiba-tiba dia menyandar kedadaku sambil menengadahkan mukanya dan mulutnya mengendus-endus leherku. Tanpa buang waktu, mulutkupun aku enduskan kelehernya dan selanjutnya mulut kami saling mencari bibir-bibir untuk saling mengemot dan saling menjulurkan lidah bergantian untuk saling dikemot-kemot penuh nafsu, sementara tanganku terus menyusuri buah-buah yang subur itu untuk meningkatkan kegairahannya, sedang tangan gadis itu mulai hilang kesadarannya oleh kenikmatan itu dengan ditandai kegairahannya untuk melepas kaitan rock bawahannya dan dilanjutkan ke kancing-kancing blousenya. Kembali kesadaranku tertegun untuk pertama kali aku menikmati keutuhan tubuh seorang gadis yang hanya mengenakan CD-nya. Namun untuk saat itu juga aku aku teperanjat, " Eiitt, nani ini udah jam delapan , aku harus berangkat kerja wahh aku terlambat" kataku. Kami saling tertegun pandang dan saling senyum tertahan dan kemudian kami berpeluk cium, sambil aku berkata

" Entar aku berangkat dan aku segera kembali , hanya untuk minta ijin kalau aku ada keperluan yahh, gimana ??".
"He..eh, mas entar lagi ya. mas".

Kami saling melepas yang seolah pelukan kerinduan yang selama ini lama terpendam.

Kebetulan kantorku hanya beberapa ratus meter dari rumah kost yang aku tempati. Selesai aku menyampaikan alasan yang dapat terima atasanku, segera aku bergegas pulang lagi.Ketika aku sampai dirumah, yang memang setiap harinya sepi pada jam-jam kerja, maka menambah kegairahanku waktu aku membuka pintu depan yang tidak terkunci, dan langsung kukunci saat aku masuk. Tetapi pintu-pintu kamar tertutup. Maka yang pertama aku tuju kamarku.

Aku buka kamarku untuk ganti baju kerjaku dengan maksud akan ganti baju kaos dengan celana pendek saja. Aku buka baju dan celanaku satu persatu, dan saat aku hanya kenakan celana dalamku, tiba-2 dari belakang nani sigadis itu sudah dibelakang mendekapku dan ohh, menakjubkan rupanya dari tadi dia aku tinggalkan tidak lagi kenakan bajunya sambil terus menunggu dikamarku.

Maka kembali kenkmatan pagi itu aku terskan lagi, dengan saling meraba dan ciuman yang penuh nafsu dan kami masing hanya mengenakan celana dalam saja, sehingga kulit kami bisa saling bergesekan merasakan dekapan secara penuh, sementara kami berpelukan dan mulut berciuman, penisku merasakan keempukan tonjolan daging diselangkangan Nani yang seolah terbelah dua memberikan sarang ke batang penisku. Sedangkan dadaku merasakan tonjolan Buah (melon)dadanya yang lembut dan torehan puting susunya didadaku. Tanganku bergerak dari punggungnya beralih ke pantatnya yang bulat untuk aku remas-2 sedang tangannya tetap memegang leher dan kepalaku dengan mulut bibir lidah saling mengemot. Lama kami pada posisi bediri

" eehhh ... mmaaaas eeehh eeegh enaak sayang nggg ..., terusss, terusss ,,,, geliii... egghhhh eenaak " erangny yang setiap saat keluar dari mulutnya.

Kegairahan pagi itu kami lanjutkan dilantai kamarku untuk saling berguling dan tetap saling peluk menaikkan gairah petting kami yang pertama kali dilantai kamarku. Maklum kamar indekost dengan tempat tidurku yang seadanya dan pas-pasan yang pasti kurang pas untuk kegairahan petting yang memuncak di pagi itu. Dengan leluasa tangan kami saling bergerak ke buah(melon)dada, penis, puting dan satu hal selama ini obsessiku adalah keinginan yang terpendam adalah kenikmatan untuk mengemot puting bila melihat buah(melon)dada gadis/wanita yang demikian montok dan menggairahkan, maka aku tumaphakan obsesiku pada kenikmatan pagi itu untuk pertama kali.

" Mass sayang terruss kemot pentilku,,, mmaasss gelii, geeliii, ... eehm mas enak.. terus jilatinn pentilku teruss aku peengin di jilatin terus pentilku..".

Dengan penuh gairah pertama aku puaskan menjilati putingnya yang aku rasakan semakin menegang dan peniskupun juga semakin menegang sambil aku gesek-2-kan ke tonjolan daging diselangkangan nani. Aku kembali agak kaget ketika batang penisku merasakan basah saat aku gesekkan di tonjolan daging selangkangan nani yang masih memakai CD, yang padahal penisku sendiri tidak mengeluarkan cairan sperma. Maka sambil mulutku mengemot dan menjilati puting susunya, tangan ku mencoba meraba selangkangan nani diantara belahan daging, namun tiba-tiba dia memekik

" A'aaa ehh jangan dulu mas enggak tahan gelinya".

Maka sementara aku lepaskan kembali dan tangan ku kembali meremas Buah(melon)dadanya sambil memilin-milin putingnya

" Mass ..,,,he'eh begitu kemotin pentilku terussusuku diremass-re'eemas ,,,,e'eeenak eeh...ehghhm....yangg geli....".

Penisku terus aku gesek-2kan dicelah selangkangan nani,

" eeh,,eehh...eehh.eehh.eeheh.eh". Demikian lenguhannya setiap aku gesek selangkangannya.

" Mas... tarik CD-ku dan pelorotkan punyamu",

sampai pada ucapan nani tersebut maka sementara kami lepas pergumulan itu sambil aku dengan ragu dan deg-deg-an aku tari pelan-pelan CD-Nani yang masih dalam keadaan terlentang semantara aku duduk dan dia mulai angkat kakinya keatas saat CD-nya mulai bergeser meninggalkan pantat sambil terus aku menarik perlahan-lahan dengan saling berpandang-pandang mata seta senyum-2 nya yang nakal maka aku dihadapkan dengan sembulan apa yang disebut clitoris yang ditumbuhi rambut-2 halus sedikit keriting dan bllaaasss lepas sudah CD-nya tinggalah celah rapat-rapat menganga semu pink dan semu basah dengan sedikit leleran lendir dari lubang kenikmatan.

" Nin.. kenapa sih" tanyaku nakal,
" Apanya ...mas" sautnya sambil senyum,
" Kalau dikemot-kemot teteknya sama pentilnya tadi".
" Aduh rasanya geli banget, rasanya kaya mau mati saja tapi enak iih geli".
" Enggak sakit dikemot dipentilnya tadi" tanyaku,

" Enak.. mas, rasanya pingin terus, kalu udah yang kiri, terus pingin yang kanan, rasanya pingin dikemot bareng-2 sama mulut mas.Terus di memekku jadi ikut-2an geli enyut-2an sampai aku eeghh.. hemmm gimana yach bergidik. hhmmmm" akunya" Terus pingin lagi nggak dikemot-kemot?" tanyaku penasaran.

"Iiiih ... mas nakal, ya ..pingin lagi dong", sambil tangannya merayap ke selangkanganku yang masih pakai CD, memencet penisku yang menonjol dan juga meremas.

"Kalau adik mas rasanya gimana tuh kalau kau pegang-pegang gini ?, geli nggak?" keingin-tahuannya juga. " Sama enak rasanya, pengin terus dielus-2 sama nani terus, geli eh-eh.eh" dengan penasaran dia mengesek-gesek pas lubang penisku, jadi geli rasanya.

"kalau ininya dipegang-pegang gini gimana mas?" sambil dia pegang dan raba-2 buah pelirku.

" Yah nikmat juga" tegasku sambil aku elus-2 pahanya yang tidak begitu putih tapi mulus. "Eh.. mas tadi aku tipu, pura-2 sakit, abis mas kelihatannya cuek saja"

Sambil dia senyum nakal menggoda. Berengsek juga nih cewek batinku, nekat juga ngerjain aku.

"Mas.. selama seminggu ini kita hanya berdua saja dirumah, terus gimana enaknya mas ?" tanyanya sambil iseng meremasremas penisku yang tetap tegak sedang aku memilin-milin puting susunya yang tetap juga tegang, " Kita kelonan terus saja seminggu ini biar siang atau malem". Kebetulan kerjaku selama ini sampai jam 14.00 sudah pulang.Dia menggoda

" Terus nanti kalau kelonan terus mas nanti nggak ada yang nyediain makan dong".
"yah nggak usah makan asal kelonan terus sama nani ntar kenyang".

Dia bangkit dan memelukku erat-erat dan diciuminya bibirku sambil lidahnya dijulurkan ke kerongkonganku. Sambil melepas dia berkata

" Mas kita kelonan lagi yuk sampai sore, terus nanti mandi bareng".

Tanganku mulai mengelus clitorisnya dan mulutku terus mengulum bibirnya dan kembali dia terlentang dilantai dan aku mulai menindihnya

"Mas.. kalau gini terus aku rasanya mau pingsan kenikmatan eehhh ...m eghhhmm... aduuuh... enak mas di memekku ..geli rasanya teruusss eeghhh...eghh".

Dan aku rasakan clitorisnya semakin basah, dan denga lahapnya jari tengahku aku cabut dari clitnya untuk kujilati jariku dan aku rasakan nikmat gurihnya lendir seorang perempuan pertama kali.

" eehh..eennak...aahhhh..aahhhh uuuhhhgguuughhhguuuhh...ehhehh"

saat jariku kembali menelusup kedalam lubang clitorisnya. Lenguhan mulutnya dan dengus napasnya menaikkan gairahku yang kian meningkat tapi aku ragu untuk menuruti naluriku mencoba memasukkan penisku kelubang memeknya. Maka sementara aku tahan walupun peniskupun juga sudah semakin basah oleh lendirku juga. Aku mulai merayap kebawah selangkangannya dan mulutku berhadapan dengan clitorisnya tanpa dia sadari karena matanya terpejam menikmati gairah yang dirasakan, saat lidahku mulai menjilat lubang clitorisnya, kembali dia terpekik agak bersuara

" Aaahhhuuuughh huuu.hu..egghh aduh ,,, eggh enak, aduhhh aku gimana nih mass aahhhh aku nggak kuat, masss ... mas.. eghh..egh hhgeehh... mas."

sambil dia aku perhatika pantat, paha , perut dan kakinya seolah kejang seperti kesakitan tetapi aku sangsi kalau dia sakit, dan malahan kepalaku dia tekan kuat ke selangkangannya sambil terus berteriak " hehehggheh ahhh...ehhhehhh... huhhh,,, mass ....aku..akuuu rasanya ... eghhh" dan dia bangkit sambil menarik CD-ku yang masih aku kenakan, dan blarrr penisku menantang tegak

"Mas masukkan mas..eeghheghh"

Dan dia angkat kakinya sambil terlentang dia bentangkan lebar selangkangannya samil tangannya membimbing penisku memasukki clitorisnya.

"Mas.. kocok mas-eghh mas yang dalam...kocok terus selangkanganku aduhh eghhh mas enakk"

Sambil kakiku aku tekuk sementara tanganku sebagai tumpuan dan dengan berat tubuhku aku tindihkan dan aku amblaskan penisku kelubang yang sedari tadi sudah menunggu, dan aku rasakan sedotan lubang yang sangat kuat pada batang penisku yang rasanya dikemot-kemot."Eehhgehhg...terussss. terusss mas...maaass enak kocok terus aduuh rasanya aku enggak kuat mass ada yang keluar eghh..eeeghhh.eehhgg aduu masss ..."

"ahhgg-agh...Nani aku aduh egghh Nani rasanya memekmu ngemot eghhh eehhmm... enak...terus sedot" " Mass enak ...sekali enak... dalam sekali .aahh Aduh... hhhaghhhhah Masa aku mauu.kkeluar ".

"Aku juga Nan... ahhhgh aku udah mau keluar..ahggghhah"

Dan akucabut penisku saat dia demikian bergetar dan menyedot sedot penisku sehingga aku tak tahan lagi untuk menyemburkan spermaku dan saat itu merasa dia terlepas dari penisku dia bangkit dan menyongsong batang penisku dengan mulutnnya menyambut semburan spermaku sambil dtangannya menggosok lubang clitorisnya di timpali dengan lenguhannya yang tidak beraturan dimulutnya

" cppokklep..plekk..clepk..clkek..cslckek"

Bunyi mulutnya mengemot menyedot penisku sementara aku terasa bergetar dan tenagaku berangsur-angsur lemas, sampai dia menjilati sisa sperma pada penisku dengan bersih. Ahhh

Sesaat kemudian aku tidur ditempat tidurku siang itu kelonan berdua yang tidak terasa telah jam 3 sore baru bangun dengan badan terasa agak pegal. Kami kembali berpagut lama dengan saling rabaan dan remasan masih dalam keadaan tanpa busana. Akhirnya kami mandi bersama yang sebelumnya kami masak air untuk mandi bersama.

Itulah pengalaman pertama kali aku menikmati hubungan sex dengan seorang ganis kampung, Nani.

Ita teman kantorku

Cerita ini dimulai ketika aku bersama 2 orang teman sekantorku mendapat training ke Singapura untuk mempelajari produk software baru. Kami bekerja di Bank Swasta terkenal di bagian Information Technology.

Aku, Edwin dan Ita menginap di Hotel Orchard di Orchard Road, Aku dan Edwin satu kamar sharing di Lantai 10. Sedangkan Ita di Lantai 6. Setibanya di Hotel kami beristirahat sejenak, kemudian kami bertiga melakukan survey tempat lokasi training untuk hari senin esoknya. Ternyata tempat training kami tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap, dari Hotel kami jalan ke station MRT Orchard dan berhenti di station MRT Bugis.., kemudian dapat melanjutkan dengan berjalan kaki.

Selesai meninjau tempat training kami kembali ke Orchard, di tengah perjalanan Ita bertanya kepadaku.
Ita: "Ricky kamu tahu gak.., tempat jual kondom yang aneh-aneh di Singapore".
Aku: "Oh tahu gue.., itu dekat Lucky Plaza.., lu mau ke sana?"
Ita: "Iya donk ke sana yuk kita lihat-lihat", Kata Ita antusias sekali.
Edwin: "Ngapain ke sana.., jauh-jauh di Jakarta juga banyak."
Ita: "Yang disini lain.., banyak yang aneh-aneh".
Aku: "Iya.., deh Win.., kita lihat saja kesana.., lagian lu ngapain bengong di hotel".

Akhirnya kami bertiga ke condo di Lucky Plaza. Ita membeli kondom yang bisa menyala kalau malam. Sedangkan Edwin acuh tak acuh.., karena dia memang type aliran lurus tidak suka yang aneh-aneh, sedangkan Ita aku perhatikan, sepertinya sangat senang melihat barang-barang di sana. Matanya tampak mengawasi boneka berbentuk alat kelamin pria, dia sepertinya ingin beli, tapi malu sama Edwin.

Setelah itu kami bertiga menelusuri mall-mall sepanjang Orchard Road, Isetan, Takasimaya dll. Tak terasa kami bertiga sudah mengelilingi pertokoan hampir 3 jam, dan hari sudah sore.
Ita: "Aduh kaki gue, pegal banget deh.., ngaso dulu yuk".
Kami bertiga berhenti dulu sambil duduk dan merokok di taman. Wah, pemandangan di Orchard asyik-asyik. cewek di sana memakai bajunya berani.., paha dan tonjolan buah dada rasanya sudah hal biasa di sana.

Sedang asyik-asyiknya melihat tonjolan 'kismis' di baju cewek yang lewat, mendadak Edwin mengajak pulang, "Yuk Rick kita balik ke Hotel".
Ita tersenyum mengejekku, "Elu ganggu si Ricky aje.., Win.., orang lagi nikmat-nikmat ngeliat pemandangan".
Waduh ketahuan saya lagi ngeker oleh Ita.., ternyata dia memperhatikanku dari tadi.
Edwin: "Habis gue bosan.., dari tadi cuma duduk-duduk doang.., mendingan balik ke Hotel.., bisa tidur bisa ngaso".
Ita: "Sebentar lagi deh Win.., gue kagak kuat jalan.., kalau dipijitan nikmat kali yach?".
Aku: "Boleh entar gue pijitin deh, tapi bayarnya berapa?".
Ita: "Sambil tersenyum menggoda.., tapi pijitinnya nikmat kagak?".
Aku: "Dijamin merem-melek deh.., saking asyiknya".
Ita: "Huh.., Gombal".
Aku: "Tidak percaya boleh coba".

Ketika Jam sudah menunjukkan pukul 19:30 perutku terasa lapar sekali, aku ajak Edwin keluar untuk mencari makan di luar. Dia menolak alasannya capek. Lebih baik pesan di restauran hotel aja aku bel Ita, dia mau tapi kakinya pegal-pegal. Aku rayu dan kubilangi nanti dipijitin deh.
Ita: "Benar yach.., awas kalau bohong".

Kami bertemu di Lobby, Ita memakai baju kaos yang lehernya rendah sekali sehingga tampak buah dadanya yang putih dan kenyal. Di tengah perjalanan aku coba menggandeng tangan Ita waktu menyeberang jalan, dia tidak menolak. Permulaan yang baik kataku dalam hati. Sewaktu perjalanan pulang ke hotel Ita menempelkan tubuhnya ke badanku, sambil berkata: "Rick.., gue sudah kagak kuat jalan nich.
Aku: "Mau gue gendong".
Ita mencubit perutku, "Dasar laki-laki cari kesempatan aje", sewot Ita
Aku: "Bukan cari kesempatan, tapi gue mau tolongin kamu".

Akhirnya kami berdua jalan sambil berpelukan. Tangan Ita memeluk pinggangku dan tanganku memeluk pinggang Ita
Wangi parfum dari tubuh Ita membangkitkan naluri kelaki-lakianku. Tanpa kusadari penisku mulai bereaksi bangkit berdiri. Tanganku mulai jahil dan turun perlahan-lahan ke pantat Ita, yang padat dan bulat. Aku lihat respon Ita apakah dia marah?, ternyata diam saja. Wah, sepertinya dia mau juga pikirku sehingga aku makin berani saja.

Saat kami berdua di lift, tanganku merayap lagi dan menelusuri pantat Ita dan mengikuti alur celana dalamnya. Dia diam saja. Aku makin berani saja dan kucoba bergerak ke pangkal pahanya. Tiba-tiba dia bereaksi mencegah perjalananku menuju sasaran sambil berkata, "Eit.., Jangan nakal yach", tapi tanpa ada ekpresi marah dari wajahnya. Akhirnya Ita berhenti di lantai 6, kembali ke kamarnya sedangkan aku ke Lantai 10

Setiba di kamar kulihat Edwin sedang tiduran sambil membaca buku. Aku menonton TV sambil berbaring dan melamun bagaimana caranya untuk mendekati Ita. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22:00, kulihat Edwin mulai mengantuk. Aku mencoba tidur tapi tidak bisa karena pikiranku sudah dipenuhi fantasi-fantasi aroma parfum Ita, yah bukit kembarnya yang bulat terawat walupun dia sudah mempunyai anak 3 orang. Juga pantatnya yang wow kalau dipegang sepertinya bisa mem-ball. Wow, pokoknya nikmat di coba.Dari pada pusing-pusing akhirnya aku keluar kamar mau merokok, karena Edwin tidak merokok. Sehingga tidak enak kalau aku merokok di kamar. Sambil menghisap asap rokok aku memutar akal bagaimana caranya agar bisa kencan dengan Ita yang jinak-jinak merpati, sepertinya nurut, tapi bikin panasaran. Akhirnya aku mendapatkan ide.

Aku naik ke lantai 6 dan aku tekan bel kamar 606.., ting-tung-ting-tung tidak lama kemudian pintu dibuka setengah dan Ita melongok dari dalam. Waduh.., Ita sudah memakai baju daster yang tipis, dimana di bawah cahaya lampu tampak lekuk tubuhnya yang aduhai seolah-olah hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, makin membuat dadaku sesak napasnya.

Ita: "Ada apa Rick?".
Aku: "Gue sakit perut nich.., lu ada obat gak?".
Ita: "Elu sich makannya rakus", kemudian dia mempersilakan aku masuk

Sewaktu dia hendak mengambil obat dia membelakangiku. Tampak punggungnya yang putih mulus, ingin rasanya aku mencium punngung tsb.

"Nich Rick minum ini", dia memberi obat Pao Chee Pill.., aku sebenarnya tidak sakit perut, tapi demi misi dan tujuan aku tegak saja obat tsb.

Ita: "Elu belon tidur Rick?"
Aku: "Belum Ta.., susah nich tidurnya".
Ita: "Edwin sudah tidur?"
Aku: "Udeh kali.., dia tadi gue lagi keluar aje.., sudah mau molor.
Ita: "Gue juga kagak bisa tidur.., kaki sama badan pegal semua.., kaya habis kerja bakti.
Ita kayanya mancing soal pijit-memijit lagi.
Aku: "Udeh sini gue pijitin.., bayarnya makan siang besok aje.., oke setuju?
Ita: "Jangan ah nanti ketahuan Edwin.
Aku: "Edwin kan di kamarnya.., lagian.., kita memang ngapain? orang pijitin doang.
Ita tersenyum malu..
Ita: "Ya deh boleh juga, tapi yang nikmat yach.., sambil tengkurap di ranjang.
Aku: "Pokoknya sip deh.., tapi ada body lotion gak?"
Ita: "Ada tuh di meja".

Aku mulai memijat Ita dari jari kaki ke betis dan Ita tampaknya menghayati pijatanku sampai di pantat Ita.
Aku: "Ta, buka bajunya nanti kotor.., kena lotion.
Ita: "Gak usah deh Rick.., cukup kaki saja".
Aku: "Kalau dipijit tuh tidak boleh tanggung-tanggung nanti malah kagak nikmat".

Ita menuruti juga permintaanku. Aku memijat dari betis ke pantat, kadang-kadang jari-jariku nakal menyentuh lembah bukit rayanya yang masih dibalut oleh celana dalamnya. Dia tampak kegelian dengan terlihat pantatnya yang menggerinjal dan keras.

Kemudian tanganku menjelajahi punggungnya yang halus seperti sutra, sesampainya di tali BH-nya dengan cepat tanganku melucuti kancing BH-nya. Ita mendadak hendak bangun dan berucap, "Jangan Rick..!

Aku tahan punggung Ita, " Jangan takut Ta gue kagak ngapa-ngapain.., lu bisa teriak kalau gue macem-macem dan gue bisa dihukum mati di sini, percaya deh sama gue". Ita akhirnya menurut juga. Tampak di mataku sosok tubuh yang indah serta leher yng jenjang. Ingin rasanya kedua tanganku menyusup ke bawah punggung dan memegang kedua gunung kembar yang mancung lembut dan kenyal. Tanpa terasa ular nagaku mengeras kencang sekali, sekan-akan hendak berontak dari celanaku.

Pijatanku beralih lagi ke jari kaki dan terus menggelosor menuju punggung. Tapi terhalang oleh celana dalam.
Perlahan-lahan kugigit celana dalam yang berwarna cream tsb dengan gigiku dan kutarik ke bawah

"Jangan Rick.., jangan..".
Ita mencoba menahan laju celana dalamnya, tetapi yang tersentuh tangannya adalah rambutku.
"Rick jangan dong.., ah..".
Aku: "Tenang Ta tidak apa-apa nanti pijitinnya bisa meluncur dari atas ke bawah, kalau kagak celanamu kotor tuh..", rayuku. Ita tampaknya juga sudah mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku, akhirnya dia pasrah.

Kutarik CD-nya dengan gigiku sampai ke bawah dan tercium olehku aroma lembah bukit raya Ita.., dan kulihat CD Ita ada bercak pulau, rupanya Ita sudah sangat terangsang. Tampak olehku semak belukar Ita yang tertata rapi bagai rumput peking dan belahan goanya yang berwarna merah muda dan lembab oleh cairan. Otakku sudah tidak terkontrol lagi. Kusergap Goa Ita dengan kedua bibirku.., terasa di pipiku sentuhan semak belukar Ita yang halus dan aroma vaginanya yang menyengat.

Ita: "Rick jangan.., jangan.., jangan..", sambil tangannya memegang rambut di kepalaku. Aku tidak peduli, kumasuki liang surgawinya dengan ujung lidahku. Terasa cairan aneh di ujung lidahku dan aroma yang menyengat. Tubuh Ita menggigil hebat dan pantatnya menegang karena menahan geli yang tidak tertahankan. Tangannya yang tadinya mencoba menahan laju serangan mulutku sekarang berbalik menekan kepalaku agar terbenam ke dalam vaginanya. Aku makin bersemangat memainkan ujung lidahku menyapu dinding vagina Ita dan kadang-kadang kugigit perlahan gumpalan 2 butir daging di vagina Ita.
Ita hanya bisa berseru lirih, "Rickk.., jangan.., jangan.., Rickk.., ohh jangan".Tapi gerakan tangan dia dengan apa yang dikeluarkan dari mulutnya sangat berlawanan. Karena sudah tidak kuat menahan serangan lidahku yang bertubi-tubi. Akhirnya Ita membalikkan tubuhnya sehingga sekarang dia dalam posisi telentang dimana tadinya dalam posisi tengkurap dan kedua kakinya melingkar di leherku sambil kedua tangannya menjambak rambutku dan menekan keras kepalaku ke arah daerah terlarangnya yang sudah basah sekali. Dia menekan kepalaku dan menaik-turunkan pinggulnya ke wajahku seakan-akan wajahku hendak dibenamkan ke vaginanya.
"Rick.., ss ohh Riick.., Ohss.., Ricckk!

Tiba-tiba terasa olehku cairan hangat mebanjiri vaginanya sampai mukaku ikut lengket terkena cairan tsb, rupanya Ita sudah mencapai klimaksnya. Tubuhnya mendadak kaku dan kepalaku ditekan keras sekali ke arah vaginanya sampai-sampai aku tidak bisa bernapas. Setelah itu pegangan Ita mengendor sehingga aku bisa mengangkat kepalaku dari jepitan kedua belah pahanya yang sintal dan kenyal. Momentum tsb tidak kusia-siakan aku cepat-cepat melepas bajuku dan celanaku. Sekarang aku telanjang dengan penis yang menantang ke arah Ita. Aku naik ke ranjang dan kudekatkan penisku yang besar dan kekar ke arah wajah Ita. Ita tampak tersenyum puas masih dalam posisi telentang. Dengan sigap digenggamnya batang penisku ke dalam genggaman tangannya yang halus dan di kulumnya kedua biji penisku ke dalam mulutnya, "Slop.., slop.., slop..", terdengar bunyi air liur dari mulut Ita. Tubuhku menggigil dengan hebatnya dan tampak kepala penisku semakin membesar dan mengkilap.

Kemudian lidah Ita menyapu perlahan-lahan dari kedua buah salak sampai kepala penisku. Lalu mengulum kepala penisku yang besar dan mengkilap ke dalam mulutnya sampai mulutnya seperti penuh sesak oleh kepala penisku. Dia memaju-mundurkan mulutnya diikuti oleh gerakan pinggulku maju-mundur ke arah muka Ita, "Slop.., slop.., slop.., ckk.., ahh Taa.., Ahh Taa.., Taa.., aa.., Oouhh".

Tiba-tiba terasa olehku kegelian yang sangat-sangat luar biasa, dimana terasa kepala penisku seolah-olah membengkak dan bersamaan dengan itu keluarlah lahar yang panas dari lubang kepala penisku, "Cret.., crett, cerst, ccrest.., crestt.., cretss", tidak terhitung olehku berapa kali aku menyemprotkan lahar panas ke mulut Ita. Terlihat cairan putih kental meleleh dari mulut Ita membanjiri wajahnya, lalu tubuhku ambruk di samping Ita.

. Rini keponakan pembantuku yang nakal

Kisah ini kembali terulang ketika keluarga gw membutuhkan seorang pembantu lagi. Kebetulan saat itu mbak Dian menganjurkan agar keponakannya Rini yang bekerja disini, membantu keluarga ini. Mungkin menurut ortu gw dari pada susah susah cari kesana kesini, gak pa pa lah menerima tawaran Dian ini. Lagian dia juga sudah cukup lama berkerja pada keluarga ini. Mungkin malah menjadi pembantu kepercayaan keluarga kami ini.
Akhirnya ortu menyetujui atas penawaran ini dan mengijinkan keponakannya untuk datang ke Jakarta dan tinggal bersama dalam keluarga ini.

Didalam pikiran gw gak ada hal yang akan menarik perhatian gw kalau melihat keponakannya. “Paling paling anaknya hitam, gendut, trus jorok. Mendingan sama bibinya aja lebih enak kemutannya.” Pikir gw dalam hati.

Sebelum kedatangan keponakannya yang bernama Rini, hampir setiap malam kalau anggota keluarga gw sudah tidur lelap. Maka pelan pelan gw ke kamar belakang yang memang di sediakan keluarga untuk kamar tidur pembantu.

Pelan pelan namun pasti gw buka pintu kamarnya, yang memang gw tahu mbak Dian gak pernah kunci pintu kamarnya semenjak kejadian itu. Ternyata mbak Dian tidur dengan kaki mengangkang seperti wanita yang ingin melahirkan. Bagaimanapun juga setiap gw liat selangkangannya yang di halus gak di tumbuhi sehelai rambutpun juga. Bentuknya gemuk montok, dengan sedikit daging kecil yang sering disebut klitoris sedikit mencuat antara belahan vagina yang montok mengiurkan kejantanan gw. Perlahan lahan gw usap permukaan vagina mbak Dian yang montok itu, sekali kali gw sisipin jari tengah gw tepat ditengah vaginanya dan gw gesek gesekan hingga terkadang menyentuh klitorisnya. Desahan demi desahan akhirnya menyadarkan mbak Dian dari tidurnya yang lelap.

“mmmm....sssshh.....oooohh, Donn... kok gak bangun mbak sih. Padahal mbak dari tadi tungguin kamu, sampai mbak ketiduran.” Ucap mbak Dian sama gw setelah sadar bahwa vaginanya disodok sodok jari nakal gw. Tapi mbak Dian gak mau kalah, tanpa diminta mbak Dian tahu apa yang gw paling suka.
Dengan sigap dia menurunkan celana pendek serta celana dalam gue hingga dengkul, karena kejantanan gw sudah mengeras dan menegang dari tadi.

Mbak Dian langsung mengenggam batang kejantanan gw yang paling ia kagumi semenjak kejadian waktu itu.
Dijilat jilat dengan sangat lembut kepala kejantanan gw, seakan memanjakan kejantanan gw yang nantinya akan memberikan kenikmatan yang sebentar lagi ia rasakan. Tak sesenti pun kejantanan gw yang gak tersapu oleh lidahnya yang mahir itu. Dikemut kemut kantong pelir gw dengan gemasnya yang terkadang menimbulkan bunyi bunyi “plok.. plok”. Mbak Dian pun gak sungkan sungkan menjilat lubang dubur gw. Kenikmatan yang mbak Dian berikan sangat diluar perkiraan gw malam itu.

“Mbak....uuuh. enak banget mbak. Trus mbak nikmatin kontol saya mbak.” Guyam gw yang udah dilanda kenikmatan yang sekarang menjalar.

Semakin ganas mbak Dian menghisap kontol gw yang masuk keluar mulutnya, ke kanan kiri sisi mulutnya yang mengesek susunan giginya. Kenikmatan yang terasa sangat gak bisa gw ceritain, ngilu. Hingga akhirnya pangkal unjung kontol gw terasa ingin keluar.

“Mbak... Donny mau keluar nih...” sambil gw tahan kontol gw didalam mulutnya, akhirnya gw muncratin semua sperma didalam mulut mungil mbak Dian yang berbibir tipis itu.
“Croot... croot... Ohhh... nikmat banget mbak mulut mbak ini, gak kalah sama memek mbak Dian. Namun kali ini mbak Dian tanpa ada penolakan, menerima muncratan sperma gw didalam mulutnya. Menelan habis sperma yang ada didalam mulutnya hingga tak tersisa. Membersihkan sisa sperma yang meleleh dari lubang kencing gw. Tak tersisa setetespun sperma yang menempel di batang kontol gw. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah padang gurun sahara, mbak Dian menyapu seluruh batang kontol gw yang teralirkan sperma yang sempat meleleh keluar dari lubang kencing gw.

Lalu dengan lemas aku menindih tubuhnya dan berguling ke sisinya. Merebahkan tubuh gw yang sudah lunglai itu dalam kenikmatan yang baru tadi gue rasakan.

“Donn... memek mbak blom dapet jatah... mbak masih pengen nih, nikmatin sodokan punya kamu yang berurat panjang besar membengkak itu menyanggah di dalam memek mbak....” pinta mbak Dian sambil memelas. Mengharapkan agar gw mau memberikannya kenikmatan yang pernah ia rasakan sebelumnya.
“Tenang aja mbak... mbak pasti dapat kenikmatan yang lebih dari pada sebelumnya, karena punya saya lagi lemes, jadi sekarang mbak isep lagi. Terserak mbak pokoknya bikin adik saya yang perkasa ini bangun kembali. Oke.”

Tanpa kembali menjawab perintah gw. Dengan cekatan layaknya budak seks. Mbak Dian menambil posisi kepalanya tepat di atas kontol gw, kembali mbak Dian menghisap hisap. Berharap keperkasaan gw bangun kembali. Segala upaya ia lakukan, tak luput juga rambut halus yang tumbuh mengelilingi batang kontol gw itu dia hisap hingga basah lembab oleh air ludahnya.

Memang gw akuin kemahiran pembantu gw yang satu ini hebat sekali dalam memanjakan kontol gw didalam mulutnya yang seksi ini. Alhasil kejantanan gw kembali mencuat dan mengeras untuk siap bertempur kembali.
Lalu gw juga gak mau lama lama seperti ini. Gw juga mau merasakan kembali kontol gw ini menerobos masuk ke dalam memeknya yang montok gemuk itu. Mengaduk ngaduk isi memeknya.Gw memberi aba aba untuk memulai ke tahap yang mbak Dian paling suka. Dengan posisi women on top, mbak Dian mengenggam batang kontol gue. Menuntun menyentuh memeknya yang dari setadi sudah basah. kontol gw di gesek gesek terlebih dahulu di bibir permukaan memeknya. Menyentuh, mengesek dan membelah bibir memeknya yang mengemaskan.

Perlahan kontol gw menerobos bibir memeknya yang montok itu. Perlahan lahan kontol gw seluruhnya terbenam didalam liang kenikmatannya. Goyangan pinggulnya mbak dian membuat gw nikmat banget. Semakin lama semakin membara pinggul yang dihiasi bongkahan pantat semok itu bergoyang mempermainkan kontol gw yang terbenam didalam memeknya.

“uh... Donn. Punya kamu perkasa banget sih. Nikmat banget....” dengan mimik muka yang merem melek menikmati hujaman kontol gw ke dalam liang senggamanya.

“memek mbak Dian juga gak kalah enaknya. Bisa pijit pijit punya saya... memek mbak di apain sih... kok enak banget.”

“Ih... mau tahu aja. Gak penting diapain. Yang penting kenikmatan yang diberikan sama memek mbak sama kamu Donn....” sahut mbak Dian sambil mencubit pentil tetek gw.

“Donn... ooohh.... Donn.... mbak mmmmauu kluuuuaaarr... ooohh.” Ujar mbak Dian sambil mendahakkan kepalanya ke atas, berteriak karena mencapai puncak dari kenikmatannya. Dengan lunglai mbak Dian ambruk merebahkan tubunya yang telanjang tepat di atas badan gw. Untung saja posisi kamar mbak Dian jauh dari kamar kamar saudara dan ortu gw.

Takutnya teriakan tadi membangunkan mereka dan menangkap basah persetubuhan antara pembantu dengan anak majikannya. Gak kebayang deh jadinya kayak apa.

Lalu karena gw belum mencapai kenikmatan ini, maka dengan menyuruh mbak Dian mengangkatkan pantatnya sedikit tanpa harus mengeluarkan batang kontol gw dari dalam liang kenikmatannya. Masih dengan posisi women on top. Kembali kini gue yang menyodok nyodok memeknya dengan bringas. Sekarang gw gak perduli suara yang keluar dari mulut mbak Dian dalam setiap sodokan demi sodokan yang gw hantam kedalam memeknya itu.

“Donn.... kamu kuat banget Donn... aaah... uuuhhh... ssshhhh.... ooohhh...” erangan demi erangan keluar silih berganti bersama dengan keringat yang semakin mengucur di sekujur badan gw dan mbak Dian.

“Truuuus... Donn... sodok trusss memek mbak Doooonn. Jangan perduliin hantam truuuss.” Erangan mbak Dian yang memerintah semakin membuat darah muda gw semakin panas membara. Sekaligus semakin membuat gw terangsang.

“Suka saya entot yah mbak... kontol saya enak’kan... hhmmm.” Tanya gw memancing birahinya untuk semakin meningkat lagi.

“hhhhhmmmm... suka....sssshhh... banget Donn. Suka banget.” Kembali erangannya yang tertahan itu terdengar bersama dengan nafasnya yang menderu dera karena nafsu birahinya kembali memuncak.

“Bilang kalau mbak Dian adalah budak seks Donny.” Perintah gw.

“Mbak budak seks kamu Donn, mbak rela meskipun kamu perkosa waktu itu.... Ohhhh... nikmatnya kontol kamu ini Donn.”

Semakin kencang kontol gw entotin memeknya mbak Dian. Mungkin seusai pertempuran ranjang ini memeknya mbak Dian lecet lecet karena sodokan kontol gw yang tak henti hentinya memberikan ruang untuk istirahat.

Merasa sebentar lagi akan keluar, maka gw balikkan posisi tubuh mbak Dian dibawah tanpa harus mengeluarkan kontol yang sudah tertanam rapi didalam memeknya. Gw peluk dia trus gw balikin tubuhnya kembali ke posisi normal orang melakukan hubungan badan.

Gw buka lebar lebar selangkangan mbak Dian dan kembali memompa memek mbak Dian. Terdengar suara suara yang terjadi karena beradunya dua kelamin berlainan jenis. “plok... plok...” semakin kencang terdengar dan semakin cepat daya sodokan yang gw hantam ke dalam liang vaginanya. Terasa sekali bila dalam posisi seperti ini, kontol gw seperti menyentuh hingga rahimnya. Setiap di ujung hujangan yang gw berikan. Maka erangan mbak Dian yang tertahan itu mengeras.

Sampai saatnya terasa kembali denyut denyutan yang semula gw rasakan, namun kali ini denyut itu semakin hebat. Seakan telah di ujung helm surga gw. Gw tahan gak mau permainan ini cepat cepat usai. Setiap mau mencapai puncaknya. Gw pendam dalam dalam kontol gw di dalam lubang senggamanya mbak Dian.

Tiba tiba rasa nikmat ini semakin.... ooohhh....ssshhhh...
Denyut denyut itu semakin menjadi... tanpa dapat gw tahan lagi. Akhirnya.

“Mbak... Donn... mau kluuuarr nih.....”
“Donn... jangan dicabut keluarin didalam saja, jangan sia sia in sperma kamu sampai terbuat. Kluarin di dalam aja Donn.” Seru mbak Dian yang mengharapkan agar gw memuncratkan didalam liang senggamanya itu.“Aaaahh..... Crooot... Croot.” Akhirnya sperma gw keluar didalam liang senggama mbak Dian. Bagi mbak Dian sperma yang gw semprotkan di liang kewanitaannya sangat nikmat sekali, berbeda dengan mantan suaminya yang dulu.

Karena banyaknya sperma yang keluar. Ketika gw cabut kontol gw dari lubang kewanitaan mbak Dian. Sedikit demi sedikit mengalir keluar dari selah selah belahan bibir vagina mbak Dian sperma yang tadi gw keluarin.

“Thank’s yah mbak. Mbak Dian kembali lagi menyalurkan hasrat saya untuk menyetubuhi mbak Dian yang ke sekian kalinya.” Ucap gw kepada mbak Dian sambil merebahkan badan gw yang lemas terkuras karena pertempuran yang membawa kenikmatan ini.

“Mbak yang minta terima kasih Donn. Bukannya kamu, kamu sudah mau memberikan kenikmatan yang slalu mbak dambakan ini.” Kata mbak Dian sambil meraih kembali batang kontol gw yang sudah tergulai lemas.

“Mbak suka yah sama kontol saya... nanti bangun lagi loh. Apa mbak Dian mampu meladeni hercules ini kalau nanti dia bangun kembali.” Goda gw ke mbak Dian sambil meremas remas gunung kembarnya yang berukuran 36 B itu dengan puting yang mungil seperti wanita yang belum menikah.

“Ihh.... kamu kuat banget sih. Bisa mati kalau kamu hantam lagi punya mbak sama tongkat ajaib kamu ini. Tadi saja mbak sudah berkali kali mencapai puncaknya. Sedangkan kamu hanya dua kali.”. “Donn... mungkin sungguh beruntung sekali bila nanti wanita yang menjadi istri mu.” Kata mbak Dian yang mengakui keperkasaan tongkat “Dewa Cabul” ini.
“hahahaha.... habisnya tubuh mbak sungguh mengiurkan bila hanya dipandang saja, kan lebih nikmat lagi bila dirasakan langsung.” Tawa gw.

Beberapa hari kemudian. Sepulangnya gw dari rumah temen gw di bilangan Mangga Dua, Jakarta Utara. Gw di kejutkan dengan sesosok hadirnya wanita yang memiliki paras ayu dengan mata yang bulat, seakan akan mengambarkan paras muka yang sangat mengiurkan bila di setubuhi. Bibir yang tipis merah merona bukan karena memakai lipstik, samar samar terlihat tumbuh bulu halus di pinggir bibir yang menantang untuk dicium. Memiliki postur tinggi badan sekitar 165cm, berkulit putih mulus. Memiliki rambut panjang hitam lurus sebahu, rambut halus yang tumbuh disekujur lengan putihnya pun menjadi sebuah pesonanya. Memiliki lingkaran dada 36 C yang membuat hati laki laki ingin melihat gundukan daging yang terbungkus itu secara langsung, didukung penuh dengan bongkahan pantatnya yang semok bagaikan buntut mobil BMW yang menungging kebelakang bila berjalan. Goyangannya begitu akan mengoda hati laki laki yang menatap pantulan pantatnya yang sungguh menawan itu.

Terbayang sepintas ingin menikmati tubuh indah itu meski bagaimana caranya, terlintas juga bila Rini menolak maka bakalan gw ambil jalan memperkosanya.

“Donn... kok ngelamun aja sih. Sudah makan blom, sana makan mbak Dian masak enak tuh hari ini. Katanya sih menu masakan yang paling kamu suka.”. “Sana makan dulu, jangan bengong...” tegur ibuku yang membuyarkan lamunan fantasi seks gw dengan Rini saat itu.

Akhirnya Rini mulai berkerja menjadi pembantu di keluarga gw. Sehari hari Rini suka pakai daster sedengkul. Terkadang kalau Rini lagi membersihkan ruangan keluarga, suka gw curi liat goyangan pantatnya yang bulat menantang untuk diremas itu. sekali kali kalau dia sedang menunduk membersihkan meja kaca diruangan tersebut. Terlihat dengan jelas buah dadanya yang menyembur ingin keluar dari BH yang ia gunakan, entah karena kekecilan atau buah dadanya yang terlalu besar untuk anak seusia Rini yang sekarang beranjak 17 tahun.

Hingga gw nekat untuk memenuhi hasrat setan gw ini.

Pernah waktu itu ketika keadaan rumah sedang kosong. Nyokap ke Bandung ada acara arisan ibu ibu. Bokap sibuk dengan urusannya sendiri di kantornya yang terletak di kawasan perkantoran Sudirman, Jakarta. Kakak gw masing masing sudah menikah dan punya keluarga masing masing. Sedangkan mbak Dian sendiri ijin pulang kampung untuk menengok anaknya hasil dari mantan suaminya. Sebelum pulang mbak Dian meminta untuk menyetubuhi dirinya sebelum nanti ia merindukan “tongkat ajaib” ini bila nanti di kampungnya. Begitulah mbak Dian kalau menyebut adik gw dengan sebutan itu. Mungkin ini juga gue anggap kesempatan emas bagi gw, karena saat ini keadaan rumah kosong hanya tinggal gw dan seorang wanita belia putih merangsang untuk segera menikmati bongkahan daging yang terbelah dan masih terbungkus rapi di balik celana dalam Rini. Serta dua gunung kembar yang jelas jelas hampir loncat dari rumahnya yang kekecilan.

Siang itu gw pura pura tidur di kamar gw, karena gw tahu jam berapa dia bersihin kamar gw, jamberpa dia nyapu dan jam berapa saja kalau Rini akan mandi.

Waktu itu gw tidur hanya mengenakan CD ketat yang secara otomatis membentuk lekukan lekukan di luar CD gw. Rini biasanya masuk kedalam kamar gw dengan mengetuknya terlebih dahulu, lalu akan masuk bila sudah gw iya kan.

Pertama tama dia kikuk lihat gw tidur terlentang dengan hanya mengenakan CD saja. Terlebih lagi Rini suka melirik nakal kearah selangkangan gw yang saat itu makin tegang kala lihat Rini memakai daster dengan lubang leher yang agak melebar dan tinggi daster yang Rini kenakan juga amatlah minim sekali. Lebih tepatnya daster itu di sebut dengan baju tidur terusan tanpa lengan tangan. Mengaitkan antara sisi depan dan belakang hanya dengan seutas ikatan tali berwarna putih.

Melihatnya saja membuat tangan gw terasa gatal sekali ingin cepat cepat menerkam tubuh sintal itu dan menindihinya di bawah tubuh gw. Merasakan seluruh jengkal tubuhnya, terutama merasakan membelah durian kampung rasa kota metropolitan.Sekitar 20 menit kemudian, tiba tiba Rini meninggalkan sapu yang di tangannya, tergeletak di bawah lantai. Perlahan lahan gw perhatiin gerakkannya yang mulai serba salah itu. Mengendap endap Rini berjalan menghampiri gw yang pura pura tertidur di atas ranjang gw yang berukuran no 1. Kemudian ditatap seongkongan batang yang tersembunyi menantang di balik Cd yang gw pakai.

Dalam hati gw, akhirnya dugaan gw tentang wanita berbulu halus di lengan dan pahanya ternyata benar. Bahwa memiliki hasrat seks yang tinggi untuk merasakannya.

Dengan posisi Rini berdiri di sisi ranjang, mulai perlahan tangannya ia julurkan mendekati punya gw yang tersembunyi itu. Di usap usap batang kontol gw seirama. Naik... turun... yang terkadang diselinggi dengan pijatan kecil pada katong pelir dan usapan halus di kepala kontol gw yang membengkak karena tegang dan keluar dari sisi atas CD yang gw pakai itu.

Hati hati dia mulai menarik ke dua sisi atas CD gw, pelan pelan hingga membebaskan hercules yang sedari tadi ingin keluar.

Digenggam batang kontol gw dengan tangan kanannya dan mulai memainkan batangnya sambil menaik turunkan tangannya di barengi jilatan jilatan kecil yang menyapu permukaan kepala kontol gw yang terlihat mengkilap membengkak karena rangsangan yang diberikan oleh Rini lewat jilatan jilatan lidahnya yang sangat nikmat itu. lama lama semakin beringas Rini melahap batang kontol gw hingga masuk semuanya ke dalam mulutnya. Terasa sekali ujung batang kontol gw mneyentuh hingga kerongkongannya. Terkadang digigit kecil pada helm surga gw. Akibatnya geli seperti ingin kencing.
Tak hanya itu. samar samar terlihat tangan sebelah kirinya mulai terselip diantara dasternya dengan kaki yang terbuka agak tertekuk pada lututnya.

Rintihan demi rintihan silih berganti, seperti sudah tak memperdulikan keberadaan gw yang sedang ia nikmati. Akhirnya memang gw akui sendiri permainan yang Rini lakukan sangat nikmat sekali, melebihi bibinya yang slama ini gw anggap paling pro dalam hal seperti ini. Erangan gw akhirnya keluar juga dari sekian lama gw tahan agar dia nikmatin dulu hal yang ia lakukan terhadap hercules gw.

“Rin... kamu sedang apa... kok celana dalam saya kamu buka. Dan bukannya kamu sedang membersihkan kamar saya.” Pura pura gw kaget dan memergoki Rini sedang mengoral kontol gw.

Mungkin karena malu karena tertangkap basah mengoral anak majikannya yang sedang tidur. Rini langsung keluar dengan muka yang merah karena malu. Gw pun gak tinggal diam, gw susul Rini yang keluar tanpa berkata apa apa. Terlihat di ruangan tengah. Rini sedang duduk sambil menutup mukanya karena kejadian yang tadi itu. perlahan gw mendekati Rini dan duduk sebelah kiri sampingnya.

“Kenapa Rin... kok malahan diam saja.” Tanya gw dengan nada yang sopan teratur, seakan seorang dosen fakultas yang bertanya kepada mahasiswi yang bersalah.

“Rini... malu sama kakak...” jawab Rini dengan masih menutup muka cantiknya. Dengan sedikit rambut halus yang tumbuh di atas bibir merah tipisnya.

“Kenapa malu... apa karena tadi Rini mengoral kakak yah... kalau boleh kakak tahu. Kamu tahu hal itu dari mana Rin...” tanya gw kembali sekedar ingin tahu pengalamannya tentang oral kelamin laki laki.

“mmmmhh... Rini pernah nonton dirumah temen Rini. Rini lihat cewek menghisap punya laki lakinya dengan begitu enaknya.” Jawab Rini dengan sejujur jujurnya menceritakan pengalamannya tentang hal mengoral.

“Trus kenapa tadi... saat kak Donny sedang istirahat. Kenapa kamu membuka celana dalam kakak dan mengoral kemaluan kakak dengan begitu nikmatnya.” Tanya gw yang seperti mengintrogasi seorang tersangka pembunuhan tingkat kakap.

“Habis... punyanya kakak gede banget dan membentuk diluar celana kak Donny. Rini pertama tama hanya penasaran saja ingin melihat bentuk punya kak Donn... tapi, Rini gak tahu. Tiba tiba Rini ingin sekali memasukkan punya kak Donny kedalam mulut Rini. Layak seperti film yang pernah Rini tonton di rumah teman Rini itu.” jawab Rini dengan begitu polosnya ingin tahu dan merasakan menghisap kelamin laki laki.

“Trus sekarang Rini masih pengen... atau mau rasa yang lebih dari yang tadi Rini lakukan terhadap kak Donny barusan.” Tanya gw dengan mengusap usap paha putihnya yang terlihat hingga pangkal pahanya.

Rini bagaikan terkunci bibirnya untuk menjawab penawaran gw itu. hanya dengan menganggukna kepalanya yang berartikan iya.

Perlahan gw kecup bibir tipis yang sempat membuat gw ingin sekali merasakan nikmat bibir gadis berumur 18 tahun yang sekarang terpampang dihadapan gw.Dengan lembut gw mengecup bibir Rini, perlahan gw sapu setiap detail bibir itu. lembut, halus, seperti makanan agar agar. Perlahan gw menurunkan celana gw bersamaan dengan CD yang tadi sempat Rini turunin.

Gw tuntun tangan kirinya menuju hercules yang telah siap sedari tadi bertahan ingin ikut merasakan kembali usapan dan hisapan gadis 18 tahun ini lagi.

Di usap usap batang kontol gw yang menegang dengan keras, bersamaan dengan nafas yang semakin meninggi karena didera nafsu darah perawan yang belum terjamah oleh laki laki. Tak ingin kalah dengan kegiatan tangan Rini, kini tangan gw mulai mengusap lembut gunung kembar yang membusung menantang untuk diremas oleh tangan perkasa. Tanpa gw perintah atau gw kasih petunjuk. Rini dengan kesadarannya membuka daster berserta bra kekecilan yang menutupi buah dadanya yang berukuran 36 C dengan pentil merah kecil menantang ingin sesegera di hisap dan mungkin di gigit kecil.

Sesaat langsung gw tarik tubuh mungil itu ke dalam jangkauan dekapan gw. Dengan sigap gw hisap puting susu Rini yang menantang dan ternyata telah mengeras sedaritadi. Rini ternyata tak ingin hanya dia seorang yang merasakan kenikmatan ini bila pasangannya tak merasakan kenikmatan ini juga.

Disambar batang kontol gw tegang mnegacung tegak berdiri, berirama dengan desahan suaranya. Rini memanjakan kontol gw dengan sangat lembut. Seakan akan tahu benda yang kini ia genggam sekarang adalah pusaka seseorang yang sekarang memberikan ia kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Uuuuhh....ssshhh... uuuuuhhhhh.... Kak... uuuuuhhh. Enak banget kak... Uuuuuhh...” desah Rini tanpa melepaskan genggamannya dari batang kontol gw. Seakan akan takut kehilangan tongkat pusaka warisan nenek moyang.

“Rin... enakkan. Kak Donny gak bohongkan... ini hanya pemanasan saja. Nanti... nanti permainan yang sesungguhnya Rini akan merasakan melayang ke surga tingkat tertinggi.” Seru gw memancing agar birahi Rini semakin terbakar dengan omongan gw.

“HHmmm... enak kak... enak... uuuuuhhhh....uuuuhhhh....kak. berikan Rini kenikmatan yang kakkkaak jannnjiiin iiiituuuu...” seru Rini dibarengi dengan desahan yang tertahan.

Gw gak mau permainan seks gw dengan Rini dengan hanya terpaku pada satu posisi bercinta. Tapi gw mau memberikan Rini segala variasi bercinta dari kamasutra yang pernah gw baca di salah satu website di internet.

Sekarang posisi gw dengan Rini seperti 69. namun posisi ini bukan seperti posisi senggama yang pada umumnya. Posisi kepala Rini sekarang adalah di bawah dengan posisi gw duduk di sofa ruang keluarga. Jadi persisnya kaki Rini sekarang mengantung di atas dan mengapit kepala gw yang sedang melahap liang memek Rini yang masih halus tak ditumbuhi oleh seutas bulu sekalipun.

Memang aroma perawan sungguh beda. Aroma harum begitu merangsang ingin menjilatinya.

Dengan kedua tangan gw menahan pinggang Rini agar posisi liang kewanitaannya tetap di hadapan gw. Sedangkan Rini mengoral batang kemaluan gw dengan sangat lahapnya.

Rambutnya terurai turun menyapu hingga ke lantai. Setiap kali lidah gw menyapu klitorisnya, maka Rini pasti mengapin kepala gw dengan keras. Seakan menahan sesuatu yang ingin keluar. Gw gak perduli... apa yang dirasakan Rini. Maka dengan grutal gw buka liang kewanitaannya dengan lidah gw dan menyelipkan diantara kedua belah daging yang mengapit klitorisnya. Sesekali gw sodok sodok dengan lidah gw yang menyentuh bagian yang paling sensitif wanita.

“Uuuuhhhh... kak ..... Rini gak tahan... mau kencing....Oooohhh....” desah Rini yang bingung dengan rasa yang menjalar tubuhnya kini.

Gw tahu dia hampir mencapai puncaknya. Maka dengan gerakan yang lebih kuat gw korek korek liang kewanitaannya dengan lidah gw yang bermain di dalam memeknya. Mengisap klitorisnya. Mengigit kecil dan menarik klitorisnya dan akhirnya.....

“Kaaakkkk..... oooohhhh. Riiinni gak tahan lagiiii. Aaaaakkkkhhhh.” Desah Rini di barengi dengan mengakunya sekujur tubuhnya. Hingga akhirnya mengalir sejumlah cairan benih di selah selah bibir memeknya yang montok itu.

Namun sungguh diluar dugaan gw sendiri. Ternyata Rini dengan cepat dapat kembali meningkat staminanya. Kembali meminta ingin merasakan kenikmatan yang gw pernah janjikan.
Dengan sigap, gw suruh Rini jongkok tepat diselangkangan gw, sedangkan gw tetap duduk di atas sofa. Kemudian gw minta Rini kembali mengoral kejantanan gw. Dengan mengikuti segala arahan yang gw berikan. Rini mengoral kejantanan gw dengan ekspresi muka yang sangat merangsangkan gw. Lalu gw pegang kepalanya dengan menjambak rambutnya yang panjang. Semakin menderu nafas gw, gw coba menahan kontol gw dalam posisi hingga terasa banget kepala kontol gw masuk sampai tengorokan Rini. Oh my God.... rasa dan sensasi yang ditimbulkan lebih nikmat dibandingkan ketika gw ngentotin mbak Dian.

Setiap gesekan yang terjadi, memberikan sejuta sensasi yang nikmat sekali. Hingga tak terasa gw pun ikut mendesah karena rasa nikmat yang sangat sangat enak ini.Gw gak mau ada tangan gw yang nganggur, dengan tangan sebelah kiri gw remas buah dada Rini yang bergelantungan layaknya buah pepaya yang siap untuk dinikmati kematangannya.

“Trus Rini hisap trus. Jilat.... enak... ssssshhhhh..... sempit banget mulut loe Rin... sssshhhhh.” Guyam gw memerintah Rini untuk semakin semangat meningkatkan gerakan naik turun.

“Oh my God.... that very Good darling.... yeah, do it again. Suck more my dick.” Kata gw, setika Rini semakin bringas melahap batang kontol gw.

“Ooohh.... sit. I’m coming.... I’m coming. fu*k.” Crooot.... crooot....

Akhirnya muntah juga lahar panas berwarna putih memenuhi rongga mulutnya. Tanpa sempat Rini menghindar dari cairan kenikmatan gw itu.

“Kak kok di keluarin di dalam mulut Rini sih, iiihh kan jorok nih....” omel Rini sambil berjalan ke arak kamar mandi di lantai dua rumah gw yang gak jauh dari situ. Dengan tanpa mengenakan kembali dasternya Rini membersihkan mulutnya dari bekas muntahan sperma gw yang hampir memenuhi seluruh ruang didalam mulutnya.

Entah setan apa yang datang. Ketika melihat Rini yang sedang menungging membersihkan mulutnya. Hasrat seks gw kembali bergejolak ketika melihat lipatan daging yang terhimpit antara pahanya yang montok putih merangsangkan.
Sekejap langsung gw jongkok di belakang Rini tepat di bawah pantatnya yang bulat itu. kemudian mulai menjilat liang kewanitaannya yang tadi mengoda untuk kembali di jamah lagi.

“Kak.... Rini kan lagi bersihin mulut Rini nih... ssssshhhh.... nanti dulu dong. Uuuuuhhh....” ujar Rini yang masih dengan posisi menungging membelakangi gw.

Tanpa menghiraukan Rini berkata apa. Gw terus menjilati liang kewanitaan Rini.

“Rini kakak masukin yah punya kak kedalam memek kamu...” pinta gw dengan mengambil posisi doggie style.

“Mmmmhh.... plan... pelan yah. Kak. Rini baru kali ini di jamah sama laki laki.” Pinta Rini. Memberitahukan bahwa dirinya masih perawan dan belum terjamah oleh laki laki manapun.

Tanpa kembali menjawab pertanyaannya lagi. Gw suruh Rini memegang wastafel di hadapannya dan merenggangkan kedua kakinya agak lebar. Karena sebentar lagi hercules perkasa ini akan menerobos gerbang surga yang didambakan laki laki manapun.

Dengan tangan sebelah kanan mengenggam batang kontol gw. Mengesek gesekkan kepala kontol gw pada bibir memeknya yang masih malu malu mereka itu. perlahan lahan dengan dibantu cairan yang keluar dari sela sela memeknya, secara langsung membantu melancarkan kontol gw untuk menerobos masuk dan sesegera mungkin merasakan kehangatan memeknya Rini.
Perlahan gw dorong batang kontol gw hingga membuat kedua bibir memek Rini ikut tertekan kedalam. Terpampang muka Rini yang meringis menahan sakit ketika benda tumpul berurat hendak memaksa masuk kedalam liang kewanitaan yang selama ini slalu Rini jaga.

Dengan susah payah, akhirnya kepala kontol gw berhasil masuk. Perlahan gw tekan kembali dengan sedikit keras dengan tangan gw sebelah kiri memeras buah dadanya yang putih serta puting susu yang mengeras meruncing ke depan.

“Tahan yah Rin... ini hanya pertamanya saja yang sakit. Nanti setelah punya kak masuk ke dalam memek kamu. Bukan sakit yang akan kamu rasakan lagi, tapi kenikmatan yang pernah sebelumnya kak janjikan kepada kamu tadi.” Rayu gw untuk menenangkan sakit yang ia derita saat kontol gw akan menerobos liang surganya.

Rini tak menjawab perkataan gw. Hanya menganggukkan kepalanya dan sesekali menatap ke arah gw yang sekarang akan menyetubuhinya lebih lanjut.

“Aaaakkkhh.... kkaakk... saaakkkit. Kak. Sakit banget.” Teriak Rini setelah seluruh batang kontol gw berhasil menembus gerbang yang tadi menintip malu malu.

Namun gw gak akan menyia yia kan usaha gw yang tadi begitu susahnya menerobos memeknya.

Pelan pelan gw tarik batang kontol gw hingga hanya menyisakan setengahnya di dalam dan kembali menekam batang kontol gw masuk kedalam lagi. Gw lakukan berkali kali biar memek Rini bisa menyesuai benda asing yang menganjal di tengah tengah rongga sempit yang masih perawan itu. selama 3 menit lebih gw lakukan pengadaptasian di memeknya Rini. Bisa gw liahat di pantulan kaca wastafel ada tetesan air mata yang mengalir di kedua pipi halusnya. Namun selang beberapa menit kemudian bukan isak tangis yang kini terdengar namun desahan yang mirip terdengar kini.

“Gimana Rin... masih sakit gak punya kamu.” Tanya gw memastikan rasa yang kini ia rasakan tanpa menghentikan penestrasi kedalam liang kewanitaannya.

“Kak... kak. Agak lebih cepat dan agak keras dong tekannya. Enak... sekarang enak kak.” Ujar Rini memberikan izin gw untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Lalu tanpa melanjutkannya gw mempercepat sodokan kontol gw ke dalam memeknaya yang seirama dengan goyangan pantat Rini yang mendorong pantatnya yang putih bulat itu ke belakang.
Sodokan demi sodokan gw pompa terus menerus ke memek perawan yang sempit itu. terasa sekali di sekujur batang kontol gw timbul rasa ngilu yang begitu amat sangat nikmatnya.Semakin lama gw percepat irama pompaan kontol gw yang diiringi desahan haus seorang wanita yang baru pertama kali merasakan surga dunia.

“uuuuhhh.... ssshhhh.... kak. Lagi kak. Lebih keras.” Pinta Rini yang merasa kurang kencang menyetubuhinya.

“Gila nih perawan, segini kencangnya gw hantam pake kontol gw, dia bilang kurang!!!!” umpat gw dalam hati yang merasa heran atas hasrat seks yang terpendam dalam diri Rini ini.

Mungkin karena terasa terkuras tenaga yang ada didalam badan gw ini. Akhirnya gw minta kepada Rini untuk mengubah posisi ngentotnya. Gw gendong Rini merapat ke dinding rumah gw. Dengan kedua tangan Rini melingkar di leher gw. Kedua kakinya melingkar dipinggang gw seperti anak kecil yang sedang ingin memanjat pohon. Dengan cepat ia meraih batang kontol gw dan meletakkan kembali ke dalam liang kewanitaannya. Seakan akan tak mau sampai kenikmatan yang tadi ia rasakan terputus sebelum ia mencapai puncak kenikmatannya yang selanjutnya. Dengan gaya mengendong Rini dan sambil berjalan menuju ke dalam kamar gw yang pertama kali Rini mengoral kontol gw tadi.

Merebahkan tubuh mungil Rini yang mengiurkan itu di atas ranjang gw. Berusaha untuk tidak merubah posisi keberadaan kontol gw yang sudah menancap didalam memeknya.
Dengan mengangkat kedua kakinya dan menaruhkannya di atas bahu gw, membuat lebih leluasa kontol gw untuk keluar masuk memeknya Rini.

“Dah gak sakit lagi’kan... enak’kan sekarang rasanya. Eeehhhhmmm... eeehhhhmm.... enak Rin. Kalau kakak sodok memek Rini kayak gini.” Tanya gw terhadap Rini dengan posisi setengah tertindih oleh badan gw.

Rini hanya menatap gw yang sedang memompanya sambil mengigit tipis bibir bawanya yang mungil. Dengan menganggukkan kepala dan mengucap usapkan kedua tangannya pada dada gw yang bidang.

Namun ada satu ekspresi muka Rini yang buat gw sungguh sungguh terangsang banget. Saat gw hentakin dengan keras batang kontol gw ke dalam liang kemaluannya. Saat itu paras ayunya semakin merangsangkan dengan bibir mungil nya yang membuka sedikit, seperti mengharapkan rasa nikmat yang lebih.

“Rin... memek kamu memang sungguh nikmat sekali... beda sekali dengan memeknya mbak Dian.” Kata gw dengan tanpa sadar mengucapkan kata kata itu.

Dengan paras muka kaget, Rini menatap gw yang masih terus memompa memeknya dengan cepat. Namun Rini hanya diam tanpa mempersoalkan bahwa gw juga sudah pernah mencicipi liang kenikmatan bibinya Dian.

Selang beberapa menit. Rini meminta agar merubah posisi senggamanya menjadi women on top. Alasannya ia lebih menikmati bila liang kewanitaannya ditikam oleh kontol gw dari bawah. Sensasi yang akan ia rasakan lebih nikmat dibandingkan dengan gaya sebelumnya.

Perlahan gw merubah posisi kembali. Namun kali ini terpaksa harus mencabut terlebuh dahulu bazzoka yang sudah tertancap di laras Rini.

Dengan berirama Rini mengoyangkan pantatnya yang bulat indah itu maju mundur, layaknya seseorang yang sedang naik kuda pacuan.

Ekspresi Rini kali ini membuat gw sungguh tergila gila akan perlakuan yang ia perbuat atas kontol gw ini. Terasa sekali kontol gw mengaduk seluruh isi liang kewanitaannya. Terkadang maju mundur, terkadang berputar putar seperti goyangan salah satu artis Inul daratista yang sedang goyang ngebor.

“Rin.... nikmat banget. Trusss Rin. Jangan berhenti.” Terasa kontol gw akhirnya mendenyut denyut akan memuntahkan sesuatu dari pangkalnya. “Gila enak banget, memek kamu memang kakak akuin lebih nikmat dibandingkan dengan mbak Dian. Uuuuhhh... damn. Trus... Rin.” Umpat gw yang merasa akan mencapai puncaknya.

“Kak... Rini mau.... mmmmauu.... sssssshhh.... kkakak.... oooooohhh.... kkllluar.” Desah Rini yang memberitahukan gw ia mau mencapai puncaknya juga.

“Rin... tahan sebentar lagi... seddiiikkit lagi. Kita keluarin samamma yah....uuuhh.”

Semakinkencang goyangan yang dibuat oleh Rini. Dan akhirnya....

“Aaakkkhhh..... kakak.” Teriak Rini sambil merebahkan tubuhnya yang lemas terkuras di atas tubuh gw. Dengan posisi batang kontol gw yang masih menancap didalam memeknya. Karena Rini tak mampu menahan dorongan yang memaksa. Akhirnya Rini mencapai puncaknya terlebih dahulu. Dengan kencang gw hujam kontol gw semakin cepat ke dalam memeknya. Tanpa memperdulikan tubuh Rini yang sudah terbujur lemas di atas badan gw.

“Crooot.... Croot....” sperma gw muncrat semuanya didalam rahim Rini. Karena banyaknya sperma yang keluar memenuhi rahimnya hingga tak tertempung. Sperma yang gw keluarin itu mengalTanpa mencabut bazzoka yang masih menancap. Gw biarkan Rini istirahat, tidur diatas badan gw layaknya seorang anak kecil yang tertidur karena kelelahan.
Dalam satu hari penuh gw setubuhi Rini terus menerus. Mumpung rumah gak ada siapa2. hanya Rini dan gw. Dari pagi hingga malam jam 9 malam sebelum seluruh anggota keluarga gw pulang ke rumah.

“Rin... terima kasih yah. Rini sudah mau kasih kakak keperawanan Rini.” Ujar gw mengucapkan terima kasih setelah melahap keperawanan yang nikmat itu.

“Rini juga sangat terima kasih sama kak Donny. Mau izinin Rini merasakan surga dunia yang begitu indah ini.” Jawab Rini sambil masih merebahkan kepalanya di dada gw.

Sungguh beruntungnya diri gw saat ini dan nanti kedepannya. Memiliki pemuas nafsu didalam rumah sendiri. Tanpa harus membayar sepeser uangpun kepada mereka. Permainan antara keponakan dan bibinya sungguh nikmat sekali. Hingga pernah gw lakuin bertiga. Saat seluruh keluarga gw pergi ke rumah saudara gw yang ada di surabaya. Kebetulan mereka menginap selama tiga hari dua malam disana. Bisa kebayang gak nikmatnya tidur didampingi dua wanita yang memiliki hasrat seks yang tinggi. Dalam satu hari gw bisa layanin mereka berdua sebanyak 7 kali. Itu juga harus gw bantu dengan telor ayam kampung dicampur dengan madu sebelum bertempur.
Di dapur... di ruang keluarga... di balkon lantai dua... huh, pokoknya dimana mereka berada, disana juga gw entotin Rini atau mbak Dian dengan sesuka hati gw.
Namun yang paling nikmat saat gw entotin Rini di Taman Rumah gw. Diatas rumput hanya di alasin oleh handuk putih.

Nikmatnya punya pembantu yang Hot seperti Mbak Dian dan Rini yang masih berusia 18 tahun ini.

. Kamar 315

"Temui aku di Hotel H kamar 315, tapi sebelumnya telp dulu ya Dik Sakti, siapa tahu Mbak Ratna sedang keluar sebentar..." begitulah pembicaraan yang singkat yang maknanya dapat aku pahami dengan cepat. Oh ya, Mbak Ratna sudah mengenalku kurang lebih setengah tahun, tapi selama setengah tahun tersebut, kami hanya sebatas berteman, karena perbedaan tempat yang cukup jauh, aku di kota S sedang Mbak Ratna di kota J. Dia mengenalku dari Mbak Vian, ya semoga pembaca masih ingat dengan kisahku di "Gelora Di Kolam Renang". Tapi aku tidak tahu apa hubungan antara Mbak Vian dengan Mbak Ratna, menurut Mbak Vian sih hanya teman dari "milist groups" (aku lupa namanya), di situ Mbak Vian cerita tentang hubunganku dengannya. Dan Mbak Ratna minta bagaimana agar bisa dikenalkan denganku.

Singkatnya, pertemanan setengah tahun berjalan sebatas kirim e-mail dan telepon, tapi tentu saja dia yang telepon duluan. Mbak Ratna adalah janda beranak 2, dia bekerja di bidang Public Service sebuah perusahaan finance di kota J, tidak jelas bagaimana ia menjanda, yang pasti mantan suaminya orang melayu. Dari yang kubayangkan selama ini lewat pembicaraan telepon, fisiknya sedang-sedang saja, hanya suaranya, ya.. suaranya yang aku ingat selalu, berat dan serak, mungkin karena dia perokok berat.

Berbekal uang recehan, aku datang ke hotel H, dan melalui public phone, aku telepon ke kamar 315. Cukup lama nada dering telepon aku dengar dan tidak ada yang mengangkat, tiba-tiba...
"Halo..." lho kok suara laki-laki? pikirku.
"Maaf Mbak Ratna ada?"
"Sebentar, dari siapa ini?"
"Sakti, saya sudah janji untuk bertemu sore ini,"
"Tante, ada orang namanya Sakti, katanya mau ketemu..."
Terdengar suara mengeras memanggil nama Ratna. Tante? Siapakah gerangan laki-laki ini?
"Ya Dik Sakti, aduh maaf Tante masih terima Hand Phone dari teman di J, langsung aja deh naik."

Begitu pintu terbuka, aku kaget, ternyata bayanganku tentang Mbak Ratna meleset seratus persen! Umurnya 37 tahun, sedang aku saat itu masih 25 tahun, kulitnya coklat, tidak cantik, cenderung gemuk tinggi tubuhnya yang 160 cm dengan berat 75 kg.

"Wah maaf ya, kenalin ini saudara Mbak di S, namanya Andi, dia anak dari kakak Mbak yang paling tua, kebetulan sedang kuliah di sini ambil jurusan... apa Di?"
"Manajemen," jawab Andi singkat sambil berjabat tangan formal sekali.
"Semester berapa kamu Di?"
"Baru semester dua kok Tante."
"Oh ya ini Sakti, dia yang membantu Tante urusan kantor di S," jawabnya menutup-nutupi yang sebenarnya, dan aku mendukung apa yang dikatakannya.
"OK deh Tante, karena sudah ada Mas Sakti, Andi permisi dulu, besok keretanya jam berapa sih, biar Andi antar sama mama sekalian," tawaran Andi dijawab singkat Mbak Ratna.
"Ah, nanti aku telepon Mbak Ning deh, sekalian besok minta dijemput main ke rumahmu, salam buat mama dan papa ya, sampai ketemu besok."

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam,
"Sampai dimana tadi Sakti... oh ya, selamat berjumpa deh dengan Mbak Ratna? Bagaimana menurut Dik Sakti? Mbak Ratna gemuk ya? Hayoo jujur saja, nggak perlu bohong?"
"Iya, untuk ukuran Mbak Ratna memang tergolong gemuk, tapi nggak apa kok, lagian kami sudah akrab kan setengah tahun ini," aku mencoba mencairkan suasana.
Mbak Ratna menyulut sebatang rokok Mild dan menawariku,
"Terima kasih, aku lebih suka Dji Sam Soe Filter," sambil ikut merokok kepunyaanku sendiri.
"OK, sengaja aku tidak cerita fisik Tante, takut kalau Dik Sakti nggak mau ketemu."
"Ah Mbak Ratna salah mengira aku, aku tidak melihat wanita dari fisiknya kok, gemuk, kurus, cantik atau tidak, China atau Pribumi, pendek atau tinggi, yang penting permainannya"
Tiba-tiba aku langsung nyerocos.
"Lagi pula, aku juga tidak tampan dan bertubuh atletik kan? aku hanya laki-laki biasa yang beruntung bisa menemani beberapa wanita yang maaf lho Tante... seperti... Mbak Ratna ini."

Tiba-tiba, belum selesai rokok satu batang, Mbak Ratna langsung merangkulku dan melumat bibirku. Didekapnya tubuhku, dan terasa sesak nafasku karena tubuhnya yang gemuk langsung menindihku di tempat tidur. "Dik Sakti, sudah sembilan bulan ini Mbak Ratna belum merasakan sentuhan laki-laki, tolong Mbak Ratna ya... oohhkkk," suaranya yang berat dan serak memecahkan kesadaranku untuk ikut melayani permainannya. Bayangan tubuhnya yang gemuk sudah hilang dari pikiranku, karena untuk pertama kali ini, aku menemui wanita yang berani langsung tanpa pemanasan. Dan ciumannya aku akui sangat panas (mungkin karena sembilan bulan puasa). Belum selesai permainan pertama, Mbak Ratna sudah mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Dan hebatnya, sambil melepas pakaian, tangannya yang satu tidak berhenti meraba kemaluanku yang masih rapat tertutup celana. Aku sudah tegang sejak ia mempermaikan kemaluanku."Ookkhhhh, Sakti, tunjukkan dong sama Mbak, kemaluan kamu, sudah tegang tuh... okkkhh yeesss,"

Tidak sampai satu menit, kami berdua sudah polos. Tubuh yang gemuk itu, berukuran payudara sedang-sedang saja, tetapi rambut kemaluannya jelas terawat sekali, panjang, lebat tetapi lurus, dan sudah basah karena terangsang. Batang kemaluanku langsung saja dituntun ke mulutnya, dan hisapannya... "Aaauu, pelan-pelan Mbak, sakiiit!" rupanya Mbak Ratna terlalu terburu-buru. Kubimbing dia untuk bermain pelan-pelan. "Terus Mbak! yaaa, teerrusss, ohh, pelan Mbak, ohh terus, nah begitu," sambil mukanya maju-mundur, burungku terus dijilati seperti es krim. Tidak perlu lama-lama menunggu, aku mulai ikut mempermainkan bibir kemaluannya.

Karena sudah basah, aku tidak perlu kerja keras untuk mengajaknya memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Dan rupanya Mbak Ratna masih ingin mengulum batang kemaluanku, walaupun sudah amat sangat keras dan tegang, apa boleh buat, aku hanya bisa menunggu giliran untuk menusuk lubang kemaluan yang sudah sangat basah itu.

"Ohhk my God, Mmmbakk," suaraku bergetar, karena sudah ingin memuntahkan sperma. Sepuluh menit hanya mengulum saja, segera kupercepat gerakan, dan agak tersedak Mbak Ratna semakin liar menghisap kemaluanku. Dan aku mengeluarkan sperma di mulut Mbak Ratna, tidak banyak, tapi cukup untuk memuaskan nafsuku yang pertama. Aku klimaks hanya dengan oral seks saja, dan Mbak Ratna masih mengulum habis sekalian membersihkan sisa sperma di kemaluanku. Dan lima menit kemudian, burungku sudah mulai bereaksi kembali. Kali ini Mbak Ratna semakin bernafsu, dan belum tegang benar, aku sudah dikangkanginya, posisiku di bawah, dan Mbak Ratna di atasku. Wah, aku hampir sulit bernafas, sepertinya (sialan) kali ini aku benar-benar habis dikuasai permainan Mbak Ratna.

Dengan dibimbing tangan kiri Mbak Ratna, burungku digenggam dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Mmhh... hangat terasa dan diikuti suara gesekan kemaluan dan dinding kemaluan sebelah dalam. Mbak Ratna mulai bergerak naik-turun, dan aku pasif saja menyaksikan apa yang sedang dikerjakan. "Oh ya... ohhkk yaaa, uuuchhh," Mbak Ratna sangat aktif sekali, gerakannya semakin tidak teratur, kini mulai bergerak maju-mundur, dan kadang-kadang menghentak, dan setengah melompat, seolah-olah ingin menancapkan burungku dalam-dalam ke lubang kemaluannya yang sudah sangat licin. "Dik Sakti adduhhh, gimana ini, oohhh ssshitt, aauuwww, ohhkk," entah teriakan apa lagi yang kudengar, Mbak Ratna semakin buas memainkan pinggulnya, tetapi sangat berirama dengan keluar-masuknya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Mbak Ratna.

Tiba-tiba Mbak Ratna berputar membelakangiku dengan posisi masih di atas, dan batang kemaluanku tertancap di lubang kemaluannya, Mbak Ratna bertumpu dengan kedua kakinya dengan posisi jongkok kembali menaik-turunkan tubuhnya, ohhhkkk, sangat aktif sekali. Kini aku hanya melihat bagian pantatnya saja, sambil sesekali melihat gerakan kemaluanku yang sudah basah dilumuri cairan dinding kemaluan Mbak Ratna tampak keluar-masuk di lubang yang nikmat sekali. "Oocchh, please... huuhhh... hhuhhh... ooohh ohhhh," gerakannya makin cepat, dan kini jelas sangat tidak beraturan. Kasur seperti bergerak dihantam gelombang oleh permainan Mbak Ratna sedang aku hanya rebahan menikmati permainannya. Dan tiba-tiba, dia memperlambat gerakannya dengan hujaman ke bawah yang sangat keras, dengan demikian burungku menusuk sangat dalam ke mulut kemaluannya. "Aauuhh," sedikit sakit karena dipaksa.

Semakin lambat gerakan Mbak Ratna, tetapi suaranya makin kencang (semoga tidak terdengar sampai keluar). "Yeess... yesss.. yeess... uuhhh, aakkhh, aakhhh, oohhh, oh.. oh.. oh.. ohh.. yees, ouucchh.. oouucch, please, pleease... pleeeassee, aaoucchh, shhitt!" Hening, dalam sekali batang kemaluanku menusuk ke lubang kemaluan Mbak Ratna, dan dibiarkan tetap di dalam, sementara Mbak Ratna menggeliat, seolah ada gerakan otomatis di dinding kemaluannya yang mengurut-urut batang kemaluanku dengan gerakan menjepit dan melebar, menjepit kembali dan tiba-tiba hangat terasa, seperti ada cairan tambahan.

Ya, aku sampai pada puncak klimaksku, ketika dalam diam tersebut, ada gerakan otomatis dari dinding kemaluan Mbak Ratna, seolah-olah meremas kemaluanku dengan sangat teratur dan diselingi desiran cairan kental yang membuat licin, sehingga batang kemaluanku terasa berdenyut-denyut dipompa oleh dinding kemaluan Mbak Ratna. Dan kejadian yang singkat ini berlangsung kurang dari setengah jam, adalah permainanku yang terakhir di kota S. Sekarang aku sudah di J, sekota dengan Mbak Ratna. Tetapi sejak di kota J ini, justru aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Mbak Ratna. Sejak kejadian yang pertama dengan Mbak Ratna, kami masih sempat bercinta 3 kali di kemudian hari, dan seperti permainan kami yang pertama, aku hanya diam saja menyaksikan permainan Mbak Ratna yang agresif dan kutunggu sesuatu yang istimewa, gerakan dinding kemaluannya, yang belum pernah kutemui dengan wanita yang lain.